Selasa, 21 Oktober 2014

One Of The Boys

One of the Boys is the second studio album and major-label debut by American singer Katy Perry. Her change in record label, and adoption of a pseudonymous surname accompanied a shift from the Christian rock of her self-titled debut album. The album was released on June 17, 2008 by Capitol Music Group. The album features the Billboard Hot 100 number-one single "I Kissed a Girl", as well as top three hit "Hot n Cold", top ten hit "Waking Up In Vegas", and top thirty hit "Thinking of You". The album earned Katy Perry two Grammy Award nominations in 2009 and 2010. One of the Boys has sold more than 5 million copies worldwide. And this are their songs.


1. One of the Boys

2. I Kissed A Girl

3. Waking  up in Vegas

4. Thinking of You

5. Mannequin

6. Ur So Gay




7. Hot n Cold
 



8.  If You Can Afford Me




9. Lost




10. Self Inflicted 

 



 11. I'm Still Breathing

 



 12. Fingerprints

 

Senin, 20 Oktober 2014

Katy Hudson


Lagu-lagu demo yang dibuat oleh Katy segera disebarluaskan ke berbagai label rekaman. Setelah serangkaian kerja keras yang nggak bisa dibilang enteng, ia akhirnya digaet oleh sebuah label rekaman yang berlokasi di Portland, Oregon, yaitu Red Hill Records pada tahun 1999. Label ini berorientasi pada musik-musik gospel. Cocok dengan jenis musik yang selama itu ditekuni Katy.

Red Hill Records sendiri merupakan satu diantara sub-label suatu label induk bernama Pamplin Music, yang didirikan oleh miliuner kenamaan Robert B. Pamplin, Jr. pada tahun 1995 dan merupakan bagian dari holding-company-nya, Pamplin Entertainment (kemudian menjadi Pamplin Communications). Pamplin Entertainment bergerak di bidang media "dakwah" Kristen melalui musik, toko buku, dan produk-produk video.

Di pasar musik gospel, Pamplin terjun ke genre pop, rock, dan R&B. Untuk jenis-jenis musik lain, Pamplin membentuk sub-label seperti Red Hill yang menangani penikmat musik berusia remaja ABG dengan genre musik lebih condong ke pop dan elektronik.

Empat tahun setelah dibentuk, tepatnya pada tahun 1999, Pamplin Music mencatat profit besar dan masuk dalam lima besar label rekaman gospel terbesar di Amerika. Nggak hanya itu, mereka juga menjadi perusahaan distributor yang mengedarkan album-album rekaman label gospel lain, semisal Discovery House Music, Maranatha!, Audience Records, dan juga Infiniti Records.

Di samping Katy, artis-artis lain yang berkiprah di Red Hill Records diantaranya adalah Aurora dan The Echoing Green. Album Katy sendiri resmi dirilis pada tanggal 23 Oktober 2001, atau dua hari sebelum hari ulang tahun ke tujuh belasnya.Sebagaimana lazimnya sebuah album perdana, yang ini juga memakai self-titled alias diberi judul dengan nama sendiri. Hanya saja, waktu itu ia masih memakai nama resminya, Katy Hudson.

Total album ini memajang 10 track, dengan lagu Trust in Me, yang ditulisnya sendiri bareng dengan Mark Dickinson dijadkan sebagai single jagoan. Katy terlibat intens dalam penulisan semua lagu. Empat diantaranya, Last Call, My Own Monster, Spit, dan When There's Nothing Left, ia tulis sendiri, sedangkan sisanya ia kerjakan bersama Mak, Tommy Collier, Brian White, dan Scott Faircloff.

Secara umum, album Katy Hudson mendapat sambutan lumayan positif dari media. Kritikus Russ Breimeir dari majalah Christianity Today memuji kemampuan vokal dan penulisan lagu Katy. Russ menyebut Katy sebagai talenta baru yang menjanjikan, dan akan memulai karir yang panjang di dunia musik.

Kritikus lain, Stephen Erlewine dari situs musik Allmusic, bahkan menyertakannya dengan bintang besar era 1990-an, Alanis Morissette, terutama dalam segi penciptaan lagu. Stephen juga menyebut Katy sebagai "mismarketed" alias salah pasang pasar, karena seharusnya ia bisa bermain di pasar musik pop komersial, dan bukan hanya sebatas genre gospel.

Nggak hanya album, single Trust in Me yang dirilis tujuh bulan lebih awal, yaitu pada tangal 6 Maret tahun yang sama, juga menuai pujian dari para kritikus. Sayang lagu ini nggak sempat masuk chart Billboard. Selain itu, nggak ada single lain lagi yang diluncurkan dari album ini.

Dalam rangka promosi, Katy bikin website dengan namanya sendiri (kala itu) yang tentu juga sekaligus juga menjadi judul album. Ia juga mengikuti rangkaian tur konser The Strangely Normal Tour, mendapingi para artis dan musisi gospel lain, seperti Phil Joe, LaRue, Luna Halo, Earthsuit, dan juga V*Enna.

Sayang, meskipun sudah didukung dengan upaya promo yang sedemikian itu, album Katy Hudson ternyata nggak bunyi di pasaran. Sama sekali nggak ada yang mau beli. Konon album tersebut hanya laku 100 kopi, itupun barangkali habis dibagi-bagi di antara keluarga, teman, dan kenalan Katy saja. Namun itu lebih dikarenakan karena Red Hill gulung tikar tahun 2001, sehingga seluruh proses promosi, distribusi, dan penjualan album Katy Hudson terpaksa harus berhenti total.

Akan halnya Katy, belakangan ia mengganti nama panggungnya dengan menggalkan surname resminya dan berganti memakai bekas surname sang ibu, yaitu Perry. Ia berpikir nama Katy Hudson nggak hoki, karena terlalu mirip dengan dengan nama bintang tenar Hollywood, Kate Hudson.



Minggu, 19 Oktober 2014

Childhood

Nama lengkapnya adalah Katheryn Elizabeth Hudson. Lahir 25 Oktober 1984 jam 8:03 pagi di Rumah Sakit San Fernando Valley, Goleta, California, Amerika Serikat. Ia merupakan anak ke 2 dari 3 bersaudara buah cinta antara Keith dan Mary Hudson. Kakak perempuannya bernama Angela Hudson dan adik laki-lakinya bernama David Hudson.

Seorang Katy akhirnya besar di dunia musik sebenarnya bukanlah sesuatu yang terlalu mengherankan. Keith sang ayah, pada era 1960-an pernah berkiprah juga dalam dunia musik, yaitu sebagai seorang scenester. Scenester adalah istilah yang dipakai untuk menyebut orang-orang non-musisi yang ikut sibuk bekerja di satu jenis event musik tertentu. Keith kemudian menjadi pendeta.

Sementara itu, ibunya Mary, adalah seorang evangelist atau pengkotbah yang sebelumnya pernah menikah di Zimbabwe, namun kemudian terpaksa balik lagi ke Amerika ketika pernikahannya tidak berjalan mulus. Nama keluarganya adalah Perry. Ia merupakan saudara tiri sutradara kenamaan era 1960-1980-an, Frank Perry (1930-1995). Meski Frank tidak pernah meraih piala bergengsi di dunia perfilman, kita tahu dari mana darah seni yang dimiliki Katy Perry berasal.

Karena besar di dalam agama yang saleh, praktis semua aktivitas Katy kecil hanya berkutat di seputar gereja. Ia bernyanyi di koor gereja sejak usia 9-17 tahun. Ia hanya mendengarkan musik-musik gospel, dan tidak diizinkan menikmati musik yang dikategorikan "sekuler". Sekolahnya pun bernuansa Kristen. Begitu pula saat ia mengikuti aneka macam perkemahan saat libur musim panas tiba.

Yang bikin Katy kecil punya minat besar dalam dunia musik adalah Angela. Layaknya anak kecil di mana pun yang hobi mengidolakan dan meniru sang kakak, demikian pula Katy pada kakak perempuannya itu. Kebetulan saja kala itu Angela memang hobi menyanyi, dan kerap latihan vokal diiringi dengan lagu-lagu yang diputar dari pita kaset.

Saat Angela tidak ada di rumah, Katy diam-diam mengambil kaset milik Angela dan ikut berlatih menyanyi juga. Ternyata hasilnya tidak mengecewakan. Waktu dia mempertunjukkan bakatnya di hadapan kedua orang tuanya, mereka terkesan dan menyuruhnya ikut les vokal secara serius.

Maka Katy pun antusias masuk les vokal saat masih berusia 9 tahun. Bagi kedua orang tuanya, bakat Katy jelas bisa dipergunakan untuk mendukung kegiatan gereja, dan bukannya untuk menjadi artis musik komersial dunia hiburan. Sejak saat itu Katy memang ikutan aktif menyanyi di gereja.

Les vokal ia ikuti hingga berumur 16 tahun. Ia kemudian meneruskan pelajaran musiknya di Musik Academy of the West di Santa Barbara, meski tidak berlangsung lama. Namun ambisi bermusiknya yang kental terlihat saat memutuskan untuk mengikuti tes GED waktu baru masuk kelas 1 SMA Dos Pueblos.

GED adalah kependekan dari General Education Development, yaitu satu bentuk ujian khusus yang diterapkan dalam dunia pendidikan nasional di AS dan juga Kanada. Seorang siswa yang lulus GED ini dinyatakan layak untuk menyandang ijazah setingkat SMA. 
Mungkin kalau di Indonesia istilahnya ujian persamaan. Bedanya, GED bisa diikuti siswa yang masih kelas X atau XII. Jadi kalau bisa melewatinya, siswa yang bersangkutan bisa langsung dinyatakan lulus SMA dan tidak harus mengikuti full melewati SMA sampai 3 tahun yang sebagaimana harusnya.

Katy lulus di ujian khusus ini. Oleh karenanya, ia tidak harus melanjutan studinya di SMA demi tekad menekuni karir secara serius di bidang musik. Dan keputusannya tepat, sebab saat ia usia 15 tahun, bakatnya ditemukan oleh para musisi di Nashville, Tennessee.
Katy pun dibawa ke sana untuk diajari jurus-jurus penulisan lagu dan komposisi musik. Di sana jugalah ia mulai belajar bermain gitar sehingga bisa lebih membantu dalam proses penulisan lagu. Di bawah bimbingan para musisi senior itu jugalah Katy mulai memproduks lagu-lagu demo.